Jumat, 15 Mei 2009

MENYIMAK

KETERAMPILAN MENYIMAK

Dalam keterampilan menyimak akan dibahas mengenai: (1) pengertian menyimak, (2) tujuan menyimak, (3) ragam menyimak, dan (4) faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak.

Pengertian Menyimak

Keterampilan menyimak merupakan bagian dari keterampilan berbahasa yang sangat esensial, sebab keterampilan menyimak merupakan dasar untuk menguasai suatu bahasa.

Anak kecil yang mulai belajar berbahasa, dimulai dengan menyimak rentetan bunyi yang didengarnya, belajar menirukan, kemudian mencoba untuk menerapkan dalam pembicaraan. Setelah masuk sekolah, anak tersebut belajar membaca dari mengenal huruf atau bunyi bahasa yang diperlihatkan oleh guru sampai pada mengucapkan bunyi-bunyi bahasa atau kegiatan menirukan bunyi-bunyi bahasa tersebut. Pada situasi ini, anak sudah mulai menulis. Demikian seterusnya sampai anak bisa mengutarakan isi pikiran melalui bahasa lisan maupun bahasa tulisan, dan mampu memahami isi pikiran orang lain yang diungkapkan melalui bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

Pengertian menyimak menurut Tarigan adalah:

Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (1987:28).

“Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya” (Tarigan, 1991:4).

“Menyimak sebagai proses mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan. Menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi” (Anderson dalam Tarigan, 1987:28).

Menyimak adalah salah satu keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang fasilitator. Menyimak bukanlah hanya mendengarkan sesuatu yang “masuk kuping kiri keluar kuping kanan” atau sebaliknya. Menyimak adalah mendengar untuk memahami apa yang dikatakan orang lain dengan proses serius yang tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan kebiasaan, refleks maupun insting. (Adnan, http://jejakkelana. wordpress.com).

Berdasarkan pendapat di atas dan dikaitkan dengan penelitian ini, maka menyimak yang dimaksud di sini adalah menyimak siaran berita radio melalui media rekaman. Jadi, menyimak siaran berita radio melalui media rekaman adalah mendengarkan dengan penuh perhatian tentang apa yang disampaikan atau terdapat dalam siaran berita radio tersebut.

Tujuan Menyimak

Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan menyimak tak pernah terlewati. Secara sadar atau tidak sadar perbuatan menyimak yang dilakukan mempunyai tujuan tertentu. Menyimak dilakukan untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, dan memahami komunikasi.

Menyimak pada hakikatnya adalah mendengarkan atau memahami bahan simakan. Karena itu dapatlah disimpulkan bahwa “tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan” (Tarigan, 1991:4).

Kalau ada orang bertanya: “Apa fungsi menyimak bagi Anda?” maka secara praktis kita dapat memberi jawaban, antara lain:

1. Saya menyimak untuk memperoleh informasi yang ada hubungan atau sangkut-pautnya dengan pekerjaan atau profesi saya.

2. Saya menyimak agar saya menjadi lebih efektif dalam hubungan-hubungan antarpribadi dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di tempat kerja, dan dalam kehidupan masyarakat.

3. Saya menyimak untuk mengumpulkan data agar saya dapat membuat keputusan-keputusan yang masuk akal.

4. Saya menyimak agar dapat memberikan responsi yang tepat terhadap segala sesuatu yang saya dengar (Hunt dalam Tarigan, 1987:55).

Memang, tujuan orang untuk menyimak sesuatu itu beraneka ragam, antara lain:

1. Ada orang yang menyimak dengan tujuan utama agar dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara; dengan perkataan lain, menyimak untuk belajar.

2. Ada orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau diperdengarkan atau dipergelarkan (terutama sekali dalam bidang seni); pendeknya dia menyimak untuk menikmati keindahan audio maupun visual (audiovisual).

3. Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dapat menilai apa-apa yang disimak itu (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tak logis, dan lain-lain); singkatnya, menyimak untuk mengevaluasi.

4. Ada orang menyimak agar dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimak itu (misalnya: pembaca cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, perdebatan); pendek kata, orang itu menyimak untuk mengapresiasi materi simakan.

5. Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat. Banyak contoh dan ide yang dapat diperoleh dari sang pembicara dan semua ini merupakan bahan penting untuk menunjang dalam mengkomunikasikan ide-idenya sendiri.

6. Ada pula orang yang menyimak dengan maksud dan tujuan agar dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang membedakan arti (distingtif) mana bunyi yang tidak membedakan arti; biasanya ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli (native speaker).

7. Ada lagi orang yang menyimak dengan maksud agar dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari sang pembicara mungkin memperoleh banyak masukan berharga.

8. Selanjutnya ada lagi orang yang tekun menyimak sang pembicara untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini diragukan; dengan perkataan lain, dia menyimak secara persuasive (Logan dan Shrope dalam Tarigan, 1987:56).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tujuan menyimak dapat dipandang dari berbagai segi, yaitu:

1. Menyimak bertujuan untuk belajar

2. Menyimak bertujuan untuk menikmati

3. Menyimak bertujuan untuk mengevaluasi

4. Menyimak bertujuan untuk mengapresiasi

5. Menyimak bertujuan untuk mengkomunikasikan ide-ide

6. Menyimak bertujuan untuk membedakan bunyi-bunyi

7. Menyimak bertujuan untuk memecahkan masalah

8. Menyimak bertujuan untuk meyakinkan

Ragam Menyimak

Seperti yang diketahui bahwa tujuan menyimak adalah untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang hendak disampaikan sang pembicara melalui ujaran. Inilah yang merupakan tujuan umum. Di samping tujuan umum itu terdapat pula berbagai tujuan khusus, yang menyebabkan adanya aneka ragam menyimak, yaitu:

1. Menyimak Ekstensif, yang terdiri atas; menyimak sosial, menyimak sekunder, menyimak estetik, dan menyimak pasif.

2. Menyimak Intensif, yang terdiri atas; menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksplorasif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif (Tarigan, 1987:35).

2.2.3.1 Menyimak Ekstensif

Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru (Tarigan, 1987:35-36).

Penggunaan yang paling dasar adalah untuk menangkap atau mengingat kembali bahan yang telah dikenal atau diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara baru. Keuntungan mengingatkan bahan lama kepada para siswa, bahwa mereka melihat hal itu secara wajar dalam lingkungan yang asli dan alamiah, bukan hanya sekedar dalam hubungan kelas, tempat pertama kali disajikan secara formal.

Yang termasuk kelompok menyimak ekstensif sebagai berikut.

1. Menyimak Sosial

Menyimak Sosial (social listening) atau menyimak konversasional (conversational listening) ataupun menyimak sopan (courtreous listening) biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang yang hadir dan saling mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi yang wajar, mengikuti hal-hal yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan (Dawson dalam Tarigan,1987:37).

Dapat dikemukakan bahwa menyimak sosial paling sedikit mencakup dua hal, yaitu menyimak secara sopan santun dan penuh perhatian terhadap percakapan dan menyimak serta memahami peranan-peranan pembicara dalam proses komunikasi.

2. Menyimak Sekunder

Tarigan (1987:38) menyatakan bahwa “menyimak sekunder (secondary listening) adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening).” Menyimak ini lebih bersifat umum tanpa ada bimbingan. Apa yang didengar oleh penyimak bukan menjadi tujuan utama. Salah satu contoh, bila menikmati musik sementara ikut berpartisipasi dalam kegiatan menulis atau melukis.

3. Menyimak Estetik

Menyimak estetik (aesthetic listening) atau menyimak apresiatif (appreciational listening) adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif (Tarigan, 1987:38). Menyimak estetik mencakup menyimak musik, puisi, menikmati cerita, teka-teki yang dapat mengapresiasikan terhadap suatu hal tertentu. Menyimak estetik bertujuan untuk siswa agar dapat menyimak musik, puisi, dan drama. Sehingga dapat menikmati dan mengapresiasikan cerita-ceritanya dalam lakon-lakon yang dibacakan atau diceritakan oleh guru atau siswa.

4. Menyimak pasif

Menyimak pasif (passive listening) adalah penyerapan suatu ajaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya pada saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa, menghapal luar kepala, berlatih santai, serta menguasai sesuatu bahasa. Untuk melakukan hal ini, perlu mempergunakan teknik-teknik tertentu yang bermanfaat, antara lain:

1) Berilah otak dan telinga kesempatan menyimak banyak-banyak.

2) Tenang dan santai.

3) Jangan memasang rintangan bagi bunyi.

4) Berikanlah waktu yang cukup bagi telinga dan otak.

5) Beri kesempatan bagi otak dan telinga bekerja, sementara mengerjakan sesuatu yang lain (Nida dalam Tarigan, 1987:39-40)

2.2.3.2 Menyimak Intensif

Tarigan (1987:40) menyatakan bahwa “menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu.” Dalam kegiatan ini diperlukan pengarahan dari guru. Salah satu cara yang sederhana untuk melatih tipe menyimak seperti ini adalah menyuruh siswa menyimak tanpa memberi teks tertulis sekali atau dua kali, misalnya teks mengenai suatu paragraf yang mengandung beberapa penghubung kalimat. Tugas siswa adalah mengisinya tanpa menyimak rekaman lagi. Kemudian memberikan teks tertulis dengan mengosongkan tempat penghubung-penghubung kalimat itu berada. Tugas siswa adalah mengisinya tanpa menyimak rekaman lagi.

Mungkin dalam kegiatan menyimak intensif, dapat dikatakan sebagai kegiatan menyimak atau mendengarkan dengan sempurna, tetapi belum tentu memahami maknanya. Oleh karena menyimak makna merupakan suatu keterampilan penting untuk dikembangkan, haruslah disadari benar-benar isi yang terkandung sebenarnya dari pesan tersebut dan berada dalam jangkauan intlektual dan kedewasaan siswa.

Jenis-jenis menyimak yang termasuk ke dalam kelompok menyimak intensif sebagai berikut.

1. Menyimak Kritis

Menyimak kritis (critical listening) adalah “sejenis kegiatan menyimak untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara, dengan alasan-alasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat” (Tarigan, 1987:42).

Menyimak kritis lebih cendrung meneliti letak kekurangan dan kekeliruan dalam pembicaraan seseorang karena dalam menyimak secara kritis, segala ucapan atau informasi lisan yang disimak untuk memproleh suatu kebenaran.

2. Menyimak Konsentratif

Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut a study-type listening atau menyimak yang merupakan sejenis telaah. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak konsentratif ini adalah:

1) Mengikuti petunjuk yang terdapat dalam pembicaraan.

2) Mencari dan merasakan hubungan-hubungan seperti kelas, tempat, kualitas, waktu, urutan serta sebab-akibat.

3) Mendapatkan atau memperoleh butir-butir informasi tertentu.

4) Memperoleh pemahaman dan pengertian yang mendalam.

5) Merasakan serta menghayati ide-ide sang pembicara, sasaran maupun pengorganisasiannya.

6) Memahami urutan ide-ide sang pembicara.

7) Mencari dan mencatat fakta-fakta penting (Anderson dan Dawson dalam Tarigan, 1987: 45).

3. Menyimak Kreatif

Menyimak kreatif (creative listening) merupakan kegiatan menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan yang menggambarkan keindahan yang dirangsang oleh apa-apa yang disimaknya (Dawson dalam Tarigan, 1987: 46).

4. Menyimak Eksplorasif

Tarigan (1987:47) menyatakan bahwa “menyimak eksplorasif (exploratory listening) adalah sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit.” Dalam menyimak seperti ini sang penyimak menyiagakan perhatiannya untuk menjalani serta menemukan hal-hal yang menarik sebagai informasi tambahan mengenai suatu topik.

5. Menyimak Interogatif

Tarigan menyatakan pengertian mengenai menyimak interogatif sebagai berikut.

Menyimak interogatif (interrogative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara, karena sang penyimak akan mengajukan banyak pertanyaan (1987:48).

Dalam kegiatan menyimak interogatif ini sang penyimak mempersempit serta mengarahkan perhatiannya pada pemerolehan informasi dengan cara mengintrogasi atau menanyai sang pembicara.

6. Menyimak Selektif

Merdhana (1987:32) menyatakan bahwa “menyimak selektif (selective listening) adalah menyimak suatu wacana yang disertai dengan seleksi tertentu terhadap kebahasaannya di samping terhadap isi pesan itu.” Dalam menyimak selektif penyimak mungkin berhadapan dengan pesan-pesan yang tidak perlu.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menyimak

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses kegiatan menyimak, yaitu: (1) sikap, (2) motivasi, (3) pribadi, (4) sistuasi kehidupan, dan (5) peranan dalam masyarakat (Hunt dalam Tarigan, 1987:97).

Pakar lain mengemukakan hal-hal yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak: (1) pengalaman, (2) pembawaan, (3) sikap atau pendirian, (4) motivasi, daya penggerak, prayojana, dan (5) perbedaan jenis kelamin atau seks (Webb dalam Tarigan, 1987:97).

Di samping itu, ada pula pakar yang mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak, yaitu: (1) faktor lingkungan, yang terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial, (2) faktor fisik, (3) faktor psikologis, dan (4) faktor pengalaman (Logan dalam Tarigan, 1987:97-98).

Berdasarkan ketiga sumber mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak, ketiga sumber tersebut mempunyai perbedaan dan persamaan. Setelah dibandingkan sumber tersebut, dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses kegiatan menyimak adalah: (1) faktor fisik, (2) faktor psikologis, (3) faktor pengalaman, (4) faktor sikap, (5) faktor motivasi, (6) faktor jenis kelamin, (7) faktor lingkungan, dan (8) faktor peranan dalam masyarakat.

1) Faktor Fisik

Kondisi fisik seorang penyimak merupakan faktor penting yang turut menentukan keefektifan serta kualitas dalam menyimak. Misalnya, ada orang yang sukar sekali mendengar. Dalam keadaan seperti itu, mungkin saja dia terganggu atau kehilangan ide-ide pokok seluruhnya. Juga secara fisik dia berada jauh di bawah ukuran gizi yang normal, sangat lelah, serta tingkah polahnya tidak karuan. Kesehatan serta kesejahteraan fisik merupakan modal penting dalam melakukan kegiatan menyimak. Lingkungan fisik juga mempengaruhi dalam menyimak, seperti ruangan terlalu panas, lembab atau terlalu dingin, dan suara bising dapat mengganggu orang yang sedang melakukan kegiatan menyimak.

2) Faktor Psikologis

Tarigan (1987:100) menyebutkan bahwa faktor-faktor psikologis dalam menyimak mencakup masalah-masalah: 1) prasangka dan kurangnya simpati terhadap para pembicara dengan aneka sebab dan alasan; 2) keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi serta masalah pribadi; 3) kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas; 4) kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiadanya perhatian sama sekali pada pokok pembicaraan; 5) sikap yang tidak layak terhadap sekolah, terhadap guru, terhadap pokok pembicaraan, atau terhadap sang pembicara.

3) Faktor Pengalaman

Latar belakang pengalaman merupakan suatu faktor penting dalam menyimak. Kurangnya minat dalam menyimak merupakan akibat dari kurangnya pengalaman dalam bidang yang akan disimak tersebut. Sikap-sikap yang menentang dan bermusuhan timbul dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, siswa tidak akan “mendengar” ide-ide yang berada di luar jangkauan pengertian serta pemahaman mereka.

4) Faktor Sikap

Setiap orang akan cenderung menyimak secara seksama pada topik-topik atau pokok-pokok pembicaraan yang dapat disetujui dibanding dengan yang kurang atau tidak disetujuinya. Pada dasarnya manusia hidup mempunyai dua sikap utama mengenai segala hal, yaitu sikap menerima dan sikap menolak. Orang akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya, tetapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik dan tidak menguntungkan baginya.

5) Faktor Motivasi

“Motivasi merupakan salah satu butir penentu keberhasilan seseorang. Kalau motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu maka dapat diharapkan orang itu akan berhasil mencapai tujuan” (Tarigan, 1987:103).

Dorongan dan tekad diperlukan dalam mengerjakan segala sesuatu. Dalam mengutarakan maksud dan tujuan yang hendak dicapai, bagi seorang guru merupakan suatu bimbingan kepada para siswa untuk menanamkan serta memperbesar motivasi mereka untuk menyimak dengan tekun.

6) Faktor Jenis Kelamin

Berdasarkan beberapa penelitian, para pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda pula.

Silverman dan Webb, misalnya, menemui fakta-fakta bahwa gaya menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, menetralkan, intrusif (bersifat mengganggu), dapat menguasai/mengendalikan emosi; sedangkan gaya menyimak wanita cenderung lebih subjektif, pasif, ramah/simpatik, difusif (menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi/gampang terpengaruh, mudah mengalah, reseptif, bergantung (tidak berdikari), dan emosional (dalam Tarigan, 1987:104).

7) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan terdiri atas dua, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Dalam lingkungan fisik, ruangan kelas merupakan faktor penting dalam memotivasi kegiatan menyimak, seperti menaruh perhatian pada masalah-masalah dan sarana-sarana akustik, agar siswa dapat mendengar dan menyimak dengan baik tanpa ketegangan dan gangguan. Para guru harus dapat mengatur dan menata letak meja dan kursi sedemikian rupa sehingga memungkinkan setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menyimak.

Lingkungan sosial juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menyimak. Anak-anak cepat sekali merasakan suatu suasana dimana mereka didorong untuk mengekspresikan ide-ide mereka, juga cepat mengetahui bahwa sumbangan-sumbangan mereka akan dihargai. Anak-anak yang mempunyai kesempatan untuk didengarkan akan lebih sigap lagi mendengarkan apabila seseorang mempunyai kesempatan berbicara. Jadi, suasana dimana guru merencanakan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan anak-anak dapat memanfaatkan situasi ruangan kelas untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi mereka.

8) Faktor Peranan dalam Masyarakat

Tarigan (1987:107) menyatakan bahwa “banyak berjalan banyak dilihat; banyak disimak banyak diserap banyak pengatahuan.” Kemauan menyimak dapat dipengaruhi oleh peranan dalam masyarakat. Sebagai guru dan pendidik, dipandang perlu untuk menyimak ceramah, kuliah atau siaran-siaran radio dan televisi yang berhubungan dengan masalah pendidikan dan pengajaran. Sebagai seorang mahasiswa, diharapkan dapat menyimak lebih seksama dan penuh perhatian daripada sebagai karyawan harian pada sebuah perusahaan setempat. Jelaslah betapa pentingnya faktor peranan dalam masyarakat bagi peningkatan menyimak.

Sabtu, 09 Mei 2009

Senin, 19 Januari 2009

CONTOH RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia

Kelas/ Semester : X / Ganjil

Pertemuan Ke : 1

Alokasi : 1 X Pertemuan ( 2 x 45 Menit)

Standar Kompetensi :

Memahami siaran atau cerita yang disamapaikan secara langsung/tidal langsung

Kompentensi Dasar :

Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan non berita)

Indikator :

  1. Menuliskan isi siaran radio / televisi dalam beberapa kalimat dengan urutan yang runtut dan mudah dipahami .
  2. Menyampaikan Secara lisan isi berita yang telah ditulis secara runtut dan jelas.
  3. Mengajukan pertanyaan / tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat).

I. Tujuan Pembelajaran :

  1. Mencatat pokok-pokok informasi yang disampaikan melalui tuturan langsung (rekamana tau teks yang dibacakan)
  2. Menentukan perbedaan butir-butir yang merupakan factor dan pendapat
  3. Mengajukan pertanyaan tanggapan berdasarakan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, dan menambahkan pendapat).
  4. Menyamapaikan informasi dengan bahasa sendiri secara jelas dan mudah dipahami.

II. Materi Ajar : Teks bacaan dari surat kabar

III. Metode Pengajaran : Diskusi, Tanya jawab

IV. Langkah Pembelajaran :

A. Kegiatan awal : Guru menggali pengetahuan siswa tentang pemahaman terhadapa perbedaan factor (benar-benar) dan opini (pendapat)

B. Kegiatan inti : Meminta seorang siswa untuk membacakan kaliamt-kalimat yang bersifat fakta dan bersifat opini, siswa lain menaggapinya (menyetujui, menolak/menambahkan pendapat0

C. Kegiatan akhir : Menyuruh siswa untuk menuliskan informasi penting yang terdapat dalam teks dengan kaliamat yang efektif.

V. Sumber Belajar :

Teks bacaan dari surat kabar

Buku bahan ajar bahasa Indonesia

VI. Penilaian :

Jenis tagihan : Tugas individu

Bentuk instrument : Format pengamatan, uraian bebas, jawaban singkat

Instrumen:

  1. Catatan isi atau pesan penting dari teks bacaan di atas!
  2. Samapaikan secara lisan isi berita yang telah dituliskan secara runtut dan jelas.
  3. Tuliskan isi atau pesan penting dari teks bacaan kedalam kaliamat atau bahasa yang efektif dan secara benar

Mengetahui, Jakarta, ......................

Kepala ........................ Guru Bidang Studi

.................................... ............................

NIP. NIP.

CERPEN


Gadis Jam Sebelas Malam


Malam itu sangat dingin, gelap, hanya lampu jalan yang menerangi. Entah kanapa malam ini aku tidak bisa tidur. Ah, baru jam setengah sebelas malam, aku pun jalan-jalan keluar rumah.


Mengapa malam ini sepi? Biasanya jam segini masih ada anak-anak yang nongkrong di jalan. Hanya anjing jalanan yang dengan ramahnya menyapa, “guk, guk”. Akupun berlari, takut digigit karena melintasi jalan areal anjing itu. Hingga akhirnya aku tiba di depan sekolah.


Wah, tak kusangka aku tamat di sekolah ini. Gedung bertingkat tiga itu sudah kelihatan agak lusuh. Kenapa ya, pihak sekolah tidak ingin merenopasinya? Padahal sekolah ini lumayan mendapat murid. Aku sejenak duduk di terotoar sambil menikmati indahnya malam dan menikmati rokok sebatang. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Sambil kulihat gedung sekolah itu yang mengingatkan pada kisahku SMA.


Aneh, bayangan atau orangkah itu? Mataku terus tertuju ke gedung sekolah, tepatnya di pojok sebelah barat di tingkat dua. Lama kelamaan bayangan itu semakin jelas. Sepertinya sesosok wanita. Aku berdiri dan coba berteriak memanggil, “hai ….” kulambaikan tangan, ia cuma diam saja berdiri dan menatap ke sebelah selatan. Karena teriakanku, anjingpun semakin keras menggonggong sehingga membuat bulu kuduku mulai merinding. Kucepat-cepat pulang kerumah. Namun, bayangan sosok itu masih menghantui. Kupaksa mata untuk terpejam sampai esok pagi memanggilku.


Esok paginya aku sudah mulai agak tenang. Pagi ini aku malas untuk bekerja. Aku langsung saja kaluar rumah mencari kopi hangat di warung dekat sekolah. Pagi ini berbeda dengan suasana malam itu. Sangat ramai dan agak bising karena anak-anak SMA mulai sekolah.


“Ini kopinya dik, dik!,” sapa Ibu warung sambil memberikanku kopi.


“Oh maaf,” jawabku agak kaget. “Makasi Bu,” sambil kuambil kopinya.


“Apa yang kamu lihat diatas sana?” Tanya Ibu itu penasaran.


Akupun menceritakan semua kejadian yang kualami tadi malam kepada Ibu warung itu.


“Dulu pernah juga ada yang melihat gadis tersebut, tapi orangnya agak gila. Katanya ia melihat di halaman sekolah lalu tiba-tiba menghilang dan kejadiannya sekitar sore hari. Kata orang-orang sih penunggu sekolah itu.” Cerita Ibu warung tersebut. Ya.., setidaknya aku sedikit puas dengan cerita ibu tadi. Dan aku baru ingat dulu pada waktu masih sekolah di sana, pernah juga ada cerita bahwa di sekolah itu ada penunggunya. Tapi kami, teman-teman di sekolah cuma menganggap itu sebuah dongeng saja.


Beberapa hari kemudian aku kerja lembur sampai pulang malam, dengan sepada motorku melintasi sekolah itu. Iseng lihat kaca spion, sepintas kulihat lagi gadis itu, sama tempatnya di gedung sekolah lantai dua. Aku tidak berhenti, langsung pulang dan mungkin ini sudah jam sebelas malam. Sampai di rumah, kulihat jam dan ternyata benar sudah jam sebelas malam. Benar-benar aneh, aku jadi gemeteran dan semakin penasaran.


Esok malamnya, sekitar jam sepuluh malam aku ke sekolah itu. Gadis itu belum tampak. Aku tunggu hingga sampai jam sebelas malam. Tepat jam sebelas malam, sedikit demi sedikit bayangan gadis itu mulai tampak. Jantungku mulai berdebar, bulu kuduku merinding dan tak bisa berkata apa-apa. Karena kali ini jelas sekali melihatnya. Aku beranikan diri untuk naik ke atas di tingkat dua. Perlahan kudekati dia. Jelas sekali kulihat gadis itu. Cantik, rambutnya panjang, pakai gaun putih, anggun sekali.


Aku mencoba untuk sedikit menenangkan diri. Kucoba menyapa, “hai..,” ia diam saja. Kucoba untuk lebih dekat lagi. Tiba-tiba ia berkata “jangan mendekat.” Aku diam dan berfikir apa yang akan aku katakan padanya.


“Mengapa kamu disini? Apa yang membuatmu begini?” tanyaku.


Ia diam saja. Aku diam juga sambil berusaha untuk menenangkan diri. Akhirnya ia menjawab, “Aku…, aku…, bunuh diri.”


“Lalu, apa yang bisa aku Bantu?” tanyaku lagi.


Ia diam saja. Hampir lima menit aku menunggu jawabannya. Mungkin ia lebih senang untuk gentayangan terus di sekolah ini sampai waktunya betul-betul tiba. Sampai kucoba lagi untuk semakin mendekat.


“Jangan mendekat!” bentaknya. Kali ini aku tak menghiraukan perkataannya.


Entah kenapa saat aku dekat sekali dengannya, aku seperti terkena setrum. Aku serasa tertarik ke masa lalu, dimana saat peristiwa kematian gadis itu. Jelas sekali kulihat peristiwa itu. Saat itu, tentara belanda kurang lebih lima orang, mengejar seorang gadis petani yang tidak lain adalah hantu itu. Ia hendak diperkosa. Namun demi menjaga kesuciannya, ia bunuh diri dengan mengambil sebilah pisau yang ia bawa dan ia tancapkan di perutnya. Agar tidak ada yang melihat, gadis itu di buang oleh tentara-tentara tersebut di sungai yang agak curam, tidak jauh dari ladang tempat ia bunuh diri. Yang sekarang sungai itu tidak lain adalah selokan atau parit yang berada di samping gedung sekolah ini.


Sungguh tragis. Setelah kejadian itu, entah kenapa aku tak sadarkan diri. Hingga keesokan harinya saat masih subuh, aku terbangun dan masih berada di lantai dua sekolah itu. Aku cepat-cepat lari untuk pulang kerumah.



Setelah kejadian itu, aku tidak pernah tenang. Jadi penakut dan selalu terbanyang akan apa yang aku lihat tentang gadis itu. Aku selalu terkejut melihat warna kain putih apalagi gaun putih seperti yang gadis itu pakai. Otakku semakin tidak beres. Aku tidak siap untuk menerima semua ini. Lama-lama aku bisa jadi gila. Sampai akhirnya aku menulis cerita ini, agar bebanku agak berkurang. Mungkin saat anda membaca cerita ini, aku sudah tidak ada atau mungkin aku sudah jadi orang gila dan tidak ingat apa-apa lagi. Aku sungguh menyesal, mengapa aku ingin mengetahui siapa gadis itu. Mungkin karena aku yang terlalu ingin tahu. Aku sudah tidak kuat lagi.


Akhirnya karena tidak kuat lagi, Roy penulis cerita ini mencoba untuk bunuh diri dengan meloncat dari gedung sekolah dari tingkat dua, tempat ia bertemu gadis itu. Namun ia tidak mati, hanya pingsan dan memar-memar sedikit saja. Sampai ia sadar, kerjanya hanya melamun saja. Hingga akhirnya ia benar-benar menjadi gila. (adhi)***





RAMALAN

Apa Kata Zodiak Tentang Kesetiaan Anda?
diambil dari: www.kapanlagi.com


Selain meramalkan nasib seseorang, asmara, karir dan rezeki, konon katanya zodiak juga bisa menunjukkan tingkat kesetian seseorang. Sttttttt tahu nggak, para warga Taurus yang katanya 'dikarunia' banyak sifat negatif, ternyata adalah orang yang paling setia .. sedangkan warga Pisces yang konon romantis abis, ternyata tipe tukang selingkuh. Nggak percaya, baca aja yang satu ini.

TA U R U S

21 April - 20 Mei

Peringkat 1 : Kesetiaannya luar biasa dan paling dapat diandalkan. Bagi beberapa zodiac tertentu, Taurus kadangkala dianggap pribadi yang agak membosankan dalam hubungan interaksi karena cenderung berkutat dalam hitungan "berhemat-hemat" atau paling tidak dianggap keras kepala.

C A N C E R

21 Juni - 22 Juli

Peringkat 2 : Ratu Rumahan yang setia, selalu ingin merawat pasangannya. Sensitivitas tinggi membuatnya sangat berhati-hati untuk tidak dilukai dan melukai. Cancer terkesan menutup rapat diri yang membuat beberapa zodiac tertentu menjadi tidak sabar karena makan waktu untuk berinteraksi dengannya.

V I R G O

23 Agustus - 22 September

Peringkat 3 : Sangat hati-hati memilih pasangan. Ketemu satu saja sudah bikin "capek", jadi boro-boro mau "main-mata" lagi. Kerap lumayan rewel dan kritis yang menunjukkan betapa besar perhatiannya pada seseorang. Bagi beberapa zodiac tertentu, Virgo adalah tipe yang kerewelan dan kritiknya kadang bisa bikin orang lain tersinggung.

C A P R I C O R N

23 Desember - 20 Januari

Peringkat 4 : Pemikiran akan rencana-rencananya sangat menyita waktunya. Cenderung berkutat seputar pemikiran akan rencana-rencananya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Capricorn terkesan membatasi diri dalam hubungan interaksi dengan lainnya. Selingkuh hanya intermezzo kala jenuh.

A Q U A R I U S

21 Januari - 19 Februari

Peringkat 5 : Tidak suka selingkuh, tapi menghindari komitmen yang membutuhkan keterlibatan emosional yang dalam. Aquarius cenderung berpikir dan bertindak tegas. Bagi beberapa zodiac tertentu, ia terkesan sangat radikal. Bila ia sampai selingkuh, berarti itu caranya yang "radikal" untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan yang tidak mampu mengikuti pola pikirnya.

L I B R A

23 September - 22 Oktober

Peringkat 6 : Paling sukar menentukan pilihan dan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan diri sendiri. Karena kerap berpikiran mendua mengenai segala sesuatu, bagi beberapa zodiac tertentu, Libra kadang terkesan penuh rahasia dan cenderung sulit dipahami.

G E M I N I

21 Mei - 20 Juni

Peringkat 7 : Harus dimanja agar tidak selingkuh. Selalu ingin dimanja dan diperhatikan oleh pasangannya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Gemini adalah tipe yang gampang berubah-ubah.

S A G I T A R I U S

23 November - 22 Desember

Peringkat 8 : Gampang tergoda untuk selingkuh. Karakter dasar yang ekspansif maka ia gampang tergoda untuk hal-hal yang "baru", begitu pula dalam hubungan. Bagi beberapa zodiac tertentu, Sagitarius adalah tipe cemerlang yang penuh vitalitas hidup.

A R I E S

21 Maret - 20 April

Peringkat 9 : Perlu dipantau agar gairah kehangatannya tidak berlebihan. Antusiasme dalam diri membuat gairahnya selalu berkobar untuk ber "petualang" dalam segala hal. Bagi beberapa zodiac tertentu, Aries adalah tipe yang hangat dalam hubungan interaksi.

L E O

23 Juli - 22 Agustus

Peringkat 10 : Kesetiaannya diliputi ego yang tinggi. Egonya yang tinggi membuat kesetiaannya sangat berpamrih, yaitu rela mengalah dalam banyak hal untuknya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Leo adalah tipe yang "menawan."

S C O R P I O

23 Oktober - 22 November

Peringkat 11 : Tak akan membiarkan setiap godaan lewat begitu saja. Godaan bisa berarti perhatian baginya dan jarang diabaikannya. Scorpio senang menjadi populer sebagai si pecinta ulung. Bagi beberapa zodiac tertentu, Scorpio adalah tipe pecinta yang ekspresif.

P I S C E S

20 Februari - 20 Maret

Peringkat 12 : Si Peselingkuh yang mengaku setia. Demikian romantis dia... perselingkuhan adalah nuansa indah dalam hidupnya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Pisces bisa begitu menggemaskan dengan keragu-raguannya dan layak digoda ke'romantis'annya. (mls/tutut)