Senin, 19 Januari 2009

CERPEN


Gadis Jam Sebelas Malam


Malam itu sangat dingin, gelap, hanya lampu jalan yang menerangi. Entah kanapa malam ini aku tidak bisa tidur. Ah, baru jam setengah sebelas malam, aku pun jalan-jalan keluar rumah.


Mengapa malam ini sepi? Biasanya jam segini masih ada anak-anak yang nongkrong di jalan. Hanya anjing jalanan yang dengan ramahnya menyapa, “guk, guk”. Akupun berlari, takut digigit karena melintasi jalan areal anjing itu. Hingga akhirnya aku tiba di depan sekolah.


Wah, tak kusangka aku tamat di sekolah ini. Gedung bertingkat tiga itu sudah kelihatan agak lusuh. Kenapa ya, pihak sekolah tidak ingin merenopasinya? Padahal sekolah ini lumayan mendapat murid. Aku sejenak duduk di terotoar sambil menikmati indahnya malam dan menikmati rokok sebatang. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Sambil kulihat gedung sekolah itu yang mengingatkan pada kisahku SMA.


Aneh, bayangan atau orangkah itu? Mataku terus tertuju ke gedung sekolah, tepatnya di pojok sebelah barat di tingkat dua. Lama kelamaan bayangan itu semakin jelas. Sepertinya sesosok wanita. Aku berdiri dan coba berteriak memanggil, “hai ….” kulambaikan tangan, ia cuma diam saja berdiri dan menatap ke sebelah selatan. Karena teriakanku, anjingpun semakin keras menggonggong sehingga membuat bulu kuduku mulai merinding. Kucepat-cepat pulang kerumah. Namun, bayangan sosok itu masih menghantui. Kupaksa mata untuk terpejam sampai esok pagi memanggilku.


Esok paginya aku sudah mulai agak tenang. Pagi ini aku malas untuk bekerja. Aku langsung saja kaluar rumah mencari kopi hangat di warung dekat sekolah. Pagi ini berbeda dengan suasana malam itu. Sangat ramai dan agak bising karena anak-anak SMA mulai sekolah.


“Ini kopinya dik, dik!,” sapa Ibu warung sambil memberikanku kopi.


“Oh maaf,” jawabku agak kaget. “Makasi Bu,” sambil kuambil kopinya.


“Apa yang kamu lihat diatas sana?” Tanya Ibu itu penasaran.


Akupun menceritakan semua kejadian yang kualami tadi malam kepada Ibu warung itu.


“Dulu pernah juga ada yang melihat gadis tersebut, tapi orangnya agak gila. Katanya ia melihat di halaman sekolah lalu tiba-tiba menghilang dan kejadiannya sekitar sore hari. Kata orang-orang sih penunggu sekolah itu.” Cerita Ibu warung tersebut. Ya.., setidaknya aku sedikit puas dengan cerita ibu tadi. Dan aku baru ingat dulu pada waktu masih sekolah di sana, pernah juga ada cerita bahwa di sekolah itu ada penunggunya. Tapi kami, teman-teman di sekolah cuma menganggap itu sebuah dongeng saja.


Beberapa hari kemudian aku kerja lembur sampai pulang malam, dengan sepada motorku melintasi sekolah itu. Iseng lihat kaca spion, sepintas kulihat lagi gadis itu, sama tempatnya di gedung sekolah lantai dua. Aku tidak berhenti, langsung pulang dan mungkin ini sudah jam sebelas malam. Sampai di rumah, kulihat jam dan ternyata benar sudah jam sebelas malam. Benar-benar aneh, aku jadi gemeteran dan semakin penasaran.


Esok malamnya, sekitar jam sepuluh malam aku ke sekolah itu. Gadis itu belum tampak. Aku tunggu hingga sampai jam sebelas malam. Tepat jam sebelas malam, sedikit demi sedikit bayangan gadis itu mulai tampak. Jantungku mulai berdebar, bulu kuduku merinding dan tak bisa berkata apa-apa. Karena kali ini jelas sekali melihatnya. Aku beranikan diri untuk naik ke atas di tingkat dua. Perlahan kudekati dia. Jelas sekali kulihat gadis itu. Cantik, rambutnya panjang, pakai gaun putih, anggun sekali.


Aku mencoba untuk sedikit menenangkan diri. Kucoba menyapa, “hai..,” ia diam saja. Kucoba untuk lebih dekat lagi. Tiba-tiba ia berkata “jangan mendekat.” Aku diam dan berfikir apa yang akan aku katakan padanya.


“Mengapa kamu disini? Apa yang membuatmu begini?” tanyaku.


Ia diam saja. Aku diam juga sambil berusaha untuk menenangkan diri. Akhirnya ia menjawab, “Aku…, aku…, bunuh diri.”


“Lalu, apa yang bisa aku Bantu?” tanyaku lagi.


Ia diam saja. Hampir lima menit aku menunggu jawabannya. Mungkin ia lebih senang untuk gentayangan terus di sekolah ini sampai waktunya betul-betul tiba. Sampai kucoba lagi untuk semakin mendekat.


“Jangan mendekat!” bentaknya. Kali ini aku tak menghiraukan perkataannya.


Entah kenapa saat aku dekat sekali dengannya, aku seperti terkena setrum. Aku serasa tertarik ke masa lalu, dimana saat peristiwa kematian gadis itu. Jelas sekali kulihat peristiwa itu. Saat itu, tentara belanda kurang lebih lima orang, mengejar seorang gadis petani yang tidak lain adalah hantu itu. Ia hendak diperkosa. Namun demi menjaga kesuciannya, ia bunuh diri dengan mengambil sebilah pisau yang ia bawa dan ia tancapkan di perutnya. Agar tidak ada yang melihat, gadis itu di buang oleh tentara-tentara tersebut di sungai yang agak curam, tidak jauh dari ladang tempat ia bunuh diri. Yang sekarang sungai itu tidak lain adalah selokan atau parit yang berada di samping gedung sekolah ini.


Sungguh tragis. Setelah kejadian itu, entah kenapa aku tak sadarkan diri. Hingga keesokan harinya saat masih subuh, aku terbangun dan masih berada di lantai dua sekolah itu. Aku cepat-cepat lari untuk pulang kerumah.



Setelah kejadian itu, aku tidak pernah tenang. Jadi penakut dan selalu terbanyang akan apa yang aku lihat tentang gadis itu. Aku selalu terkejut melihat warna kain putih apalagi gaun putih seperti yang gadis itu pakai. Otakku semakin tidak beres. Aku tidak siap untuk menerima semua ini. Lama-lama aku bisa jadi gila. Sampai akhirnya aku menulis cerita ini, agar bebanku agak berkurang. Mungkin saat anda membaca cerita ini, aku sudah tidak ada atau mungkin aku sudah jadi orang gila dan tidak ingat apa-apa lagi. Aku sungguh menyesal, mengapa aku ingin mengetahui siapa gadis itu. Mungkin karena aku yang terlalu ingin tahu. Aku sudah tidak kuat lagi.


Akhirnya karena tidak kuat lagi, Roy penulis cerita ini mencoba untuk bunuh diri dengan meloncat dari gedung sekolah dari tingkat dua, tempat ia bertemu gadis itu. Namun ia tidak mati, hanya pingsan dan memar-memar sedikit saja. Sampai ia sadar, kerjanya hanya melamun saja. Hingga akhirnya ia benar-benar menjadi gila. (adhi)***





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar choy..??