Jumat, 15 Mei 2009

MEDIA PEMBELAJARAN

Media Pembelajaran

Mengenai definisi media pendidikan di sini, para ahli memberikan batasan yang berbeda-beda, terlebih lagi dengan media pembelajaran di sekolah. Untuk itu, penulis mengemukakan beberapa pendapat dari para ahli untuk menopang pengertian dalam pembahasan media pada tulisan ini.
Hamalik (1994:31) menyatakan, “media adalah setiap alat (baik hardware maupun software), metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan ko-munikasi dan interaksi antar guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah”. Dalam definisi tersebut, beliau menekankan pada alat dan metode yang mengaktifkan komunikasi antar guru dan murid, artinya media yang dimaksudkan di sini adalah media pendidikan.
Sementara itu Sadiman, dkk (1990:6) menyatakan “media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar”. Ini berarti bahwa di samping media sebagai alat, media juga bermanfaat sebagai perangsang siswa untuk belajar.
Di samping berupa alat, media pendidikan ada juga yang berupa metode, teknik seperti yang disampaikan oleh Hamalik (1994:23), menyatakan bahwa “Media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.” Jadi, Hamalik di sini menekankan pada metode dan teknik yang dipergunakan sebagai alat dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara guru dan siswa.
Berdasarkan pendapat di atas, maka yang dimaksud dengan media dalam penelitian ini adalah metode atau teknik, yang dimaksud di sini adalah bagaimana caranya agar siswa lebih tertarik untuk menulis atau membuat karangan deskripsi dengan gerak-gerik yang menarik ataupun dengan menggunakan alat lain seperti media audiovisual.
Untuk lebih mudah mengenal tentang media pendidikan, pada bagian ini disampaikan ciri-ciri media pendidikan. Hamalik (1994:22) menyatakan bahwa ciri-ciri umum media pendidikan adalah sebagai berikut.

1. Media pendidikan identik artinya dengan keperagaan yang berasal dari kata “raga” artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, dan didengar serta dapat diamati melalui panca indra kita. Panca indra yang digunakan dalam penelitian ini adalah indra pendengaran, karena media rekaman (tape recorder) hanya bisa didengar.
2. Tekanan utama terletak pada benda-benda atau hal-hal yang bisa dilihat dan didengar.
3. Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan atau komunikasi dalam pembelajaran, antara guru dan siswa. Media di dalam kelas misalnya media rekaman, media di luar kelas misalnya media rekaman alat-alat olahraga seperti bola, rumah-rumahan, dan sebagainya.
4. Media adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
5. Berdasarkan ciri (3) dan (4), maka pada dasarnya media pendidikan merupakan suatu ‘perantara” (medium) dan digunakan dalam rangka pendidikan.
6. Media pendidikan mengandung aspek-aspek sebagai alat dan teknik, yang sangat erat pertaliannya dengan metode pembelajaran.

Dengan melihat ciri-ciri media pendidikan di atas, dapat diketahui dengan jelas bahwa media pendidikan adalah suatu alat (alat peraga), teknik, cara, yang merupakan alat bantu dalam berkomunikasi atau menyampaikan pelajaran dari guru kepada murid dalam upaya meningkatkan pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas, sehingga dengan ciri-ciri media ini guru dapat menentukan format media yang dapat digunakan agar menarik untuk mengajarkan materi kepada siswa tanpa biaya yang mahal.
Adapun kriteria pemilihan media didasarkan pada:
1. Tujuan instruksional, yaitu tujuan khusus untuk membantu proses pembelajaran.
2. Validitas yaitu harus relevan dengan materi dan tujuan.
3. Kualitas visual (dapat dilihat).
4. Kualitas pandangan maksudnya enak dipandang mata.
5. Ciri-ciri merespon artinya dapat merespon siswa dan merangsang siswa belajar.
6. Program yang terstruktur artinya adanya sistematika sajian.
7. Kesesuaian dengan kehendak siswa artinya media tersebut sesuai dengan selera siswa sehingga menyenangkan.
8. Ketepatan waktu artinya sesuai dengan alokasi waktu (tidak menyita waktu).
9. Karakter siswa artinya sesuai dengan kondisi instrinsik siswa seperti hobi, dan tingkah laku.
10. Mudah diperbaiki artinya bila alat rusak tiba-tiba, guru/siswa mudah memperbaikinya.
11. Nilai praktis artinya bisa di bawa kemana-mana.
12. Ketersediaan artinya media tersebut mudah diperoleh.
13. Keusangan artinya alat tersebut tidak basi melainkan up to date.
(Rumampuk, 1988:19-21).

Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa pemilihan media audiovisual sebagai media dalam pembelajaran mengarang sekalipun tidak memenuhi semua kriteria di atas, namun dari beberapa kriteria cukup memenuhi. Oleh karena itu, cukup beralasan jika media audiovisual (komputer) digolongkan sebagai media pendidikan, yang tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan.

1. Prinsip Umum Media Pendidikan
Seperti telah disebutkan di atas bahwa agar media ini benar-benar efektif membantu dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan, media yang telah tepat dipilih hendaknya digunakan dengan cara yang tepat pula.
Setiap media memiliki keterbatasan dan kekuatan serta kesukarannya masing-masing. Ketidaksamaan itu berakibat pada ketidaksamaan pula pada cara penggunaannya. Hamalik (1994:3) menyebutkan bahwa secara khusus ada hal-hal yang prinsip dalam penggunaan media pendidikan, yakni:
1. Tidak ada media pendidikan yang dapat merupakan media tunggal dan dipakai untuk mencapai semua tujuan pendidikan. Media tertentu lebih cocok untuk mencapai tujuan tertentu, dalam kondisi tertentu, mata pelajaran tertentu, serta untuk murid tertentu pula. Jadi, tidak ada satu media yang dapat digunakan pada semua model pembelajaran.
2. Tidak ada media pendidikan yang dapat menggantikan guru 100%. Artinya tidak ada media yang penggunaannya tanpa bimbingan dan arahan guru.
3. Media adalah bagian integral dari proses belajar mengajar. Media membawa pesan tersendiri yang mencapai efek-efek tertentu pada siswa bukan sekedar alat. Artinya bukan alat yang berupa benda mati belaka melainkan alat yang mampu membangkitkan minat belajar siswa.
4. Penggunaan media bukan hanya sekedar selingan tetapi harus mempunyai tujuan yang menyatu dengan pelajaran yang bersangkutan. Artinya penggunaannya bermakna untuk membantu pencapaian tujuan.
5. Media hendaknya digunakan secara bervariasi dan berimbang. Tidak ada media yang harus dipakai dengan meniadakan yang lain. Maksudnya adanya keseimbangan penggunaan media dengan komponen pembelajaran yang lain.
6. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar menuntut partisipasi siswa. Tanpa partisipasi aktif yang dipersiapkan sebelum dan sesudah penggunaan media, hasil belajar yang diperoleh tidak akan memuaskan.
7. Penggunaan media yang terlalu banyak sekaligus akan membingungkan siswa. Peningkatan multi media, tidak berarti segala macam media digunakan serentak. Maksudnya media yang digunakan hendaknya diseleksi dan disesuaikan dengan alokasi waktu dan cakupan materi.
8. Adapun bentuk media yang akan digunakan harus dipersiapkan secara matang. Artinya media yang digunakan disesuaikan dengan waktu, materi, dan mampu menggunakan media tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa untuk dapat menggunakan media dengan baik dalam proses belajar mengajar dituntut pengetahuan khusus tentang prinsip umum penggunaan media. Dengan demikian, penggunaan media dalam penelitian ini berpegang pada prinsip di atas.
2. Macam-Macam Media
Rumampuk (1988:40-43) mengemukakan bahwa ditinjau dari jenisnya, media dibagi menjadi beberapa bagian: (1) media auditif, (2) media visual, dan (3) media audiovisual. Berikut ini diuraikan satu persatu.
1. Media Auditif
Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, casette recorder, piringan hitam. Media ini tidak cocok untuk orang tuli atau mempunyai kelainan pada daerah pendengaran.
2. Media Visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbul yang bergerak seperti film bisu atau film kartun.


3. Media Audiovisual
Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media ini dibagi lagi ke dalam: (a) audiovisual diam, dan (b) audiovisual gerak.
a. Audiovisual diam, yaitu jenis media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, cetak suara.
b. Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan radio-cassette.
Pembagian lain dari media ini adalah: (a) audiovisual murni, dan (b) audiovisual tidak murni.
a. Audiovisual murni, yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber seperti film video-cassette.
b. Audiovisual tidak murni, yaitu yang unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder.
Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa siswa yang memiliki tipe tanggapan lewat mendengar lebih cocok digunakan media auditif. Media visual cocok digunakan untuk siswa yang memiliki tipe tanggapan lewat indra penglihatan. Media audiovisual digunakan untuk siswa yang memiliki tipe tanggapan penglihatan maupun pendengaran. Dengan demikian, siswa dapat terbantu oleh media yang digunakan dalam pembelajaran.
3. Variasi Media dan Bahan Pengajaran
Tiap anak didik mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih senang membaca, ada yang lebih suka mendengarkan dulu, kemudian menulis di papan tulis dilanjutkan dengan melihat contoh konkrit.
Ada tiga komponen dalam variasi penggunaan media, yaitu media pandangan, media dengar, dan media taktill. Bila guru dalam menggunakan media bervariasi dari satu ke yang lain, atau variasi bahan ajar dalam satu komponen media, akan banyak sekali memerlukan penyesuaian indra anak didik yang nantinya membuat perhatian anak didik menjadi lebih tinggi, memberi motivasi untuk belajar, mendorong berpikir, dan meningkatkan kemampuan belajar. Guna memudahkan pemahaman mengenai media pandang, media dengar, dan media taktill ini dapat diikuti uraian berikut.

1. Variasi Media Pandang
Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunaan alat dan bahan ajar khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah, globe, peta, majalah dinding, film-film strip, TV, komputer, radio, recorder, gambar grafik, model, demonstrasi, dan lain-lain. Penggunaan yang lebih luas dari alat-alat tersebut akan memiliki keuntungan sebagai berikut.
1. Membantu secara konkrit konsep berpikir dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat.
2. Memiliki secara potensial perhatian anak didik pada tingkat yang tinggi.
3. Dapat membuat hasil belajar yang riil yang akan mendorong kegiatan mandiri anak didik.
4. Mengembangkan cara berpikir berkesinambungan, seperti halnya dalam film.
5. Memberikan pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat yang lain.
6. Menambah frekwensi kata, lebih dalam dan variasi belajar.

2. Variasi Media Dengar
Pada umumnya dalam proses belajar mengajar di kelas, suara guru adalah alat utama dalam komunikasi, dan ini telah pernah disinggung. Variasi dalam penggunaan media dengar memerlukan situasi saling bergantian atau kombinasi dengan media pandangan dan media taktill. Sudah barang tentu ada sejumlah media dengar yang dapat dipakai untuk itu di antaranya ialah pembicaraan-pembicaraan anak didik, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara, bahkan rekaman suara ikan lumba-lumba yang semuanya dapat memberikan relevansi dengan pelajaran.

3. Variasi Media Taktill
Komponen terakhir dari keterampilan menggunakan variasi media dan bahan ajaran adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran. Dalam hal ini akan melibatkan anak didik dalam kegiatan penyusunan atau pembuatan model, yang hasilnya dapat disebut sebagai “media taktill”. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara individu ataupun kelompok kecil. Contoh: Dalam bidang studi sejarah dapat membuat model desa zaman Majapahit; dalam bidang studi geografi dapat membuat model lapisan tanah; mengumpulkan berbagai jenis mata uang logam contoh untuk bidang studi ekonomi.
Variasi Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah variasi media pandang dan dengar (audiovisual), yaitu dengan menggunakan komputer.

4. Media Audiovisual
Setelah dibicarakan secara umum mengenai media pendidikan, maka pada bagian ini dibicarakan secara spesifik tentang media audiovisual. Sesuai dengan judul tulisan ini yaitu menggunakan media audiovisual sebagai alat bantu, maka hal-hal yang berhubungan dengan media audiovisual dipaparkan di bawah ini.
Nababan (1983:206) mengemukakan bahwa media adalah “Segala alat yang dapat digunakan oleh guru dan pelajar untuk mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditentukan.” Alat atau media ini terdiri dari media yang komersial (diperjualbelikan) atau yang dapat dibuat sendiri seperti gambar. Alat juga dapat dibagi menjadi alat yang didengar (audiotory), alat yang dilihat (visual), serta alat yang didengar dan dilihat (audiovisual).
Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media ini dibagi lagi ke dalam: (a) audiovisual diam, dan (b) audiovisual gerak. Audiovisual diam, yaitu jenis media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, cetak suara. Sedangkan audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti televisi, film suara (VCD), dan radio-cassette.
Pembagian lain tentang media ini adalah: (a) audiovisual murni, dan (b) audiovisual tidak murni. Pada audiovisual murni, baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber seperti film video-cassette. Lain halnya dengan audiovisual tidak murni yang unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder.
Membuat karangan deskripsi dengan media yang dimaksudkan di atas berarti media audiotory seperti radio dan tape, kemudian visual seperti slide, dan audiovisual yang berupa televisi, film, VCD, komputer, dan lain-lain. Berarti masih bersifat umum, sedangkan yang perlu penulis bahas di sini adalah media secara khusus yang dapat dilihat dan didengar, yaitu media audiovisual dengan menggunakan komputer. Penulis menggunakan media audiovisual berupa komputer ini karena sekolah tempat penulis meneliti didukung oleh adanya fasilitas media komputer, seperti ruang lab komputer untuk praktek para siswa khususnya siswa jurusan teknologi informasi.
Kebaikan-kebaikan dalam menggunakan media pendidikan berupa komputer adalah sebagai berikut.
1. Fungsi berpikir siswa lebih dirangsang secara bebas dan dinamis.
2. Lebih membangkitkan minat siswa dan perhatian anak dapat dipusatkan kepada suatu peristiwa atau keadaan.
3. Informasi yang disampaikan lebih jelas dan lebih lengkap karena disajikan dengan efek grafis dan audio yang menarik.
4. Pengajaran bisa diberikan dengan bervariasi sehingga memungkinkan hasil yang diperoleh akan lebih baik.
5. Kemungkinan guru bisa menyelesaikan pekerjaan lain sesuai dengan skala prioritas.
6. Komputer membuka kesempatan yang tak terbatas untuk menyimpan data dan digunakan setiap waktu diperlukan.
Sedangkan di samping kelebihan tersebut, penulis juga kemukakan kelemahan daripada penggunaan media komputer, yaitu sebagai berikut.
1. Bila dibandingkan dengan media grafis seperti gambar dan foto, ataupun media audio seperti tape-recorder, maka media audiovisual berupa komputer lebih mahal biayanya, karena memerlukan perawatan yang cukup banyak.
2. Kemungkinan guru hanya sebagai pengamat atau pemberi informasi saja.
3. Kemungkinan adanya kesempatan anak yang nakal mengganggu teman yang lainnya.
4. Media komputer sangat tergantung oleh daya listrik. Jadi, tanpa adanya daya listrik tersebut media ini tidak bisa dimanfaatkan.
Namun, apabila kita bandingkan antara kelebihan dengan kekurangannya, masih jauh lebih menguntungkan. Hal itu dikarenakan, di samping pembelajaran bisa diatur juga adanya variasi yang indah bagi siswa dan guru dalam penggunaan sistem pembelajaran sehari-hari. Sementara kekurangan seperti yang disampaikan di atas tidak sulit untuk mengatasi, karena kelemahan tersebut tidak terlalu bermakna.
Penggunaan media audiovisual berupa komputer merupakan suatu cara yang sangat baik dalam meningkatkan pembelajaran sebagai metode alternatif di samping pemberian pembelajaran dengan metode ceramah dan cara belajar siswa aktif (CBSA). Di samping itu, penggunaan komputer sebagai media perantara pendidikan ini sangat menarik, karena suasana dalam penyampaian suatu materi pendidikan akan menjadi lebih hidup dan dinamis. Penggunaan komputer juga merupakan kreasi seni dalam pembelajaran, karena dengan menggunakan media audiovisual ini, akan dapat memotivasi siswa untuk lebih bergairah dalam belajar, menambah gaya tarik karena dapat menimbulkan daya fantasi pada siswa, serta tidak membosankan.
Jadi berdasarkan uraian di atas, penggunaan media audiovisual sangatlah cocok diterapkan dalam semua bidang studi, baik dari tingkat Sekolah Dasar maupun sampai Perguruan Tinggi. Tentunya teknologi ini dimanfaatkan sebaik-baiknya agar berdaya guna sesuai dengan fungsinya, khususnya dalam dunia pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar choy..??